Selasa, 13 Desember 2011
Cemburu Menguras Hati
Cemburu Menguras Hati
Cemburu menurut kamus besar.com adalah perasaan tidak suka atau tidak senang melihat orang lain beruntung. Tapi ada juga definisi lain tentang cemburu yaitu perasaan takut kehilangan atau takut ditinggalkan. Perasaan cemburu sebenarnya sah-sah saja asal masih dalam batas kewajaran, banyak yang bilang kalo cemburu itu tanda cinta , atau cemburu itu adalah bumbu dalam suatu hubungan. Tidak salah memang saat kita cemburu terhadap pasangan, namun jika sebuah hubungan itu diibaratkan sebuah masakan jika bumbunya (baca cemburu*) terlalu berlebihan maka rasanya pun akan jadi tidak enak atau “eneg” .
Cemburu bisa menjadi bumbu penyedap sebuah hubungan tapi juga bisa menjadi penghancur sebuah hubungan. kenapa demikian? saat cemburu melanda kadang banyak pikiran tidak sehat yang menggoda untuk dilakukan sehingga membuat hati kita tersiksa. Mengapa tersiksa ? karena dari pikiran kita sendiri yang memunculkan semua pikiran- pikiran buruk dan membuat kita semakin terpuruk sehingga hanya bisa mengeluh dan mengeluh saja. Semua pikiran buruk yang ada membuat kita curiga pada pasangan , jika curiga kita berlebihan malah makin membuat hati kita tidak nyaman, sebentar - sebentar telpon atau sms hanya untuk menanyakan sedang apa, dimana, dengan siapa saja, atau pulang jam berapa . Dan ketika pasangan kita tidak sempat membalas telpon atau sms , pikiran langsung tidak karuan. Kalau hati kita saja tidak tenang , tidak nyaman dan dipenuhi rasa tidak percaya, bagaimana membuat pasangan kita nyaman bersama kita? Yang ada adalah paranoid dan ujung-ujungnya adalah munculnya sikap posesif.
Tentu saja sikap posesif ini menambah masalah baru dalam sebuah hubungan, karena akan membuat kita sendiri merasa dalam zona tidak aman, tidak percaya diri, penuh kecurigaan serta ketakutan akan kehilangan pasangan, dan bahkan membuat diri kita jatuh dan terpuruk dengan semua pikiran-pikiran negatif yang berkeliaran di dalam otak kita. Bagi pasangan kita, tentu saja sikap posesif yang kita tunjukkan itu akan membuat mereka tidak nyaman dan terkekang. Kalau sudah begitu bagaimana pasangan akan tambah mencintai dan menyayangi kita? justru sedikit demi sedikit akan berjalan menjauh dari kita tanpa kita sadari. Jenuh dan bosan sudah pasti melanda hati pasangan kita, bayangkan saja kita selalu saja menelisik apa-apa saja yang mereka lakukan saat tidak bersama kita, belum lagi serangan sms dan telpon atau bahkan chat email yang bertubi-tubi dan makin membuat pasangan kita seperti diikat dengan erat hingga kesulitan bernafas. Dan yang lebih parah lagi jika kita sudah mulai menghubungi teman, rekan kerja atau keluarga untuk memantau pasangan kita di luaran, nah kalau sudah begini bukankah akan menjadi bumerang bagi kita sendiri? Karena makin menujukkan ketidak percayaan diri dan ketidakharmonisan hubungan kita dengan pasangan.
Maka dari itu kita harus pintar-pintar mensiasati dan mengolah rasa cemburu kita ini untuk menjadi energi yang positif bagi diri kita. Misalnya saja saat kita cemburu pada pasangan, berusahalah untuk menjadi lebih baik lagi dari segi sikap dan kepribadian, tapi bukan berarti kita harus berubah menjadi orang lain. Kita tentu tahu bahwa manusia diciptakan dengan segala kelebihan dan kekurangannya, introspeksi diri penting untuk mengetahui sisi negatif yang harus dihilangkan dan sisi positif yang harus ditambah atau dengan kata lain bagaimana cara kita saja untuk menonjolkan kelebihan kita dan menutupi kekurangan yang ada pada diri kita. Selain instrospeksi, kita juga harus percaya diri, karena pasangan kita sudah memilih kita untuk bersamanya maka, tunjukkan bahwa dia tidak salah memilih kita, dengan segala hal positif yang kita punya tentunya.
Untuk itu berhati-hatilah dengan rasa cemburu, cemburu dalam batas wajar masih bisa ditolelir sebagai penyedap dalam sebuah hubungan. Akan tetapi cemburu dengan kadar berlebihan adalah penyakit yang berbahaya bagi hati kita. Jika hati sudah ditutupi oleh cemburu, maka akan dengan mudah menghancurkan hubungan dengan pasangan. Tidak ada salahnya jika kita mengkomunikasikan cemburu yang kita rasakan terhadap pasangan kita, hal ini penting agar pasangan kita mengerti batasan-batasan mana yang membuat kita merasa nyaman atau tidak nyaman. Selebihnya berikan kepercayaan pada pasangan, dan percaya diri bahwa kita adalah orang yang tepat untuk pasangan kita.
sumber : http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2011/11/30/cemburu-menguras-hati-simbol-krisis-kepercayaan-diri/
Rabu, 30 November 2011
Kata bijak
Anda tidak mencintai seorang wanita karena kecantikannya, dia menjadi cantik karena anda mencintainya.
Keluarga dan Globalisasi
KELUARGA DAN GLOBALISASI
Oleh:
Fitri Dian Sari
Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen
Fakultas Ekologi Manusia
2011
Globalisasi berasal dari kata ‘global’ yang artinya keseluruhan. Friedman berpendapat bahwa globalisasi memiliki dimensi ideologi menyangkut kapitalisme pasar bebas dan tekhnologi informasi yang menyatukan dunia. Selain itu, Briones juga berpendapat globalisasi sudah mencakup ekonomi, hak asasi manusia, dan pergerakan wanita. Kita lihat saja, arus globalisasi yang semakin lama semakin meningkat tentunya berdampak pada kehidupan sehari-hari. Subtansi globalisasi utama menyangkut ekonomi, teknologi, dan budaya menjadi suatu kewaspadaan bagi kita untuk selalu berhati-hati dalam menanggapi arus globalisasi terutama bagi bangsa sendiri yakni Indonesia.
Perkembangan globalisasi tentunya memiliki hal yang positif dan negatif. Hal positif yang dapat dirasakan antara lain kecepatan akses informasi untuk melihat perkembangan dunia, pola pikir masyarakat yang lebih maju, meningkatnya pasar internasional sehingga membuka kesempatan kerja yang lebih banyak, dan berkembangnya etos kerja disiplin serta tanggung jawab lebih baik. Sementara itu, dampak negatif yang dirasakan juga tidak sedikit meliputi rasa nasionalisme masyarakat semakin berkurang, maraknya peniruan budaya barat pada remaja, kesenjangan sosial, dan perilaku individualisme pada masyarakat. Semua hal tersebut berawal dari masyarakat terutama keluarga yang menjadi pondasi awal terbentuknya suatu individu serta merupakan unit terkecil bagian masyarakat.
Keluarga sebagai dasar lingkungan individu sangat berperan dalam menanggapi globalisasi. Keluarga merupakan institusi kecil dari pembentukan suatu masyarakat yang pada hakekatnya adalah wadah terbentuknya masing-masing anggota terutama anak-anak. Salah satu teori keluarga yaitu struktural fungsional menekankan pada fungsi keluarga. Globalisasi yang semakin berkembang perlu menyadarkan para keluarga untuk pengembangan fungsi sosial antara lain mengembangkan kebudayaan, membentuk norma positif, serta membina sosialisasi pada anak dengan baik (Effendi, 2008). Peran ayah dan ibu (orangtua) untuk mendidik dan membimbing adalah hal yang sangat penting untuk pembentukan individu (anak). Sebagian besar ahli menyatakan bahwa individu yang berkualitas karena keluarga yang memberikan perhatian, pengawasan, pengasuhan, dan pendidikan yang baik kepada anak-anaknya.
Dampak negatif yang ditimbulkan dari globalisasi dapat dikurangi dimulai dengan hal sederhana mulai dari pendidikan kepada anak-anak. Pendidikan agama sebagai pondasi kehidupan individu menjadi hal utama yang pertama untuk mendidik anak. Anak diajarkan mulai dari hal kecil untuk selalu bersyukur, berdoa setiap memulai kegiatan sampai pada pengenalan iman Islam atau keyakinan yang diyakini masing-masing keluarga. Sementara itu, moral adalah bagian dari pendidikan agama. Anak perlu dikenalkan pendidikan moral untuk menanggapi globalisasi. Penanaman moral yang baik seperti membuang sampah pada tempatnya, mengucapkan terima kasih, menghormati orangtua dan guru, menghargai makhluk hidup, menghemat air, dan hal lainnya untuk diajarkan pada anak-anak sehingga tercipta karakter pada anak. Selain itu, pengenalan terhadap perilaku budaya asli Indonesia untuk cinta tanah air seperti rekreasi ke museum atau Taman Mini Indonesia Indah, budaya batik, tari tradisional juga menjadi suatu perhatian utama sebagai hal wajib untuk diajarkan pada anak-anak.
Pendidikan seks juga hal yang perlu diajarkan kepada anak sehingga mereka dapat membedakan budaya barat dengan budaya timur yang ada di bangsa Indonesia. Zaman era globalisasi seperti ini tidak heran jika anak-anak sudah pintar menggunakan internet. Perluasan informasi yang ada di internet sangat memungkinkan anak-anak untuk dapat mengaksesnya baik positif maupun negatif. Teknologi internet yang semakin canggih membahayakan anak-anak jika tidak ada pengawasan dari orangtua. Oleh karena itu, orangtua tetap mengijinkan anak-anak untuk bebas melakukan kegiatannya tetapi buat kesepakatan pada anak dengan orangtua dalam penetapan aturan dan pemberian hukuman. Hal tersebut akan menyadarkan anak sebagai pribadi individu yang bertanggung jawab.
Selain pendidikan agama, moral, dan seks, keluarga juga perlu mengajarkan sosial ekonomi pada anak-anak. Hal tersebut dapat didukung dengan pengajaran dalam pengelolaan keuangan untuk selalu bersikap jujur baik pengeluaran maupun pemasukan. Selain itu, mendidik anak untuk menabung juga merupakan budaya untuk pengembangan sosial ekonomi pada anak sehingga jika mereka dewasa tidak mengelola uang secara sembarangan. Hal ini akan mengajarkan anak untuk terhindar dari perilaku korupsi.
Globalisasi yang menjadi perhatian utama pada zaman sekarang memang sebaiknya difokuskan pada masyarakat yaitu keluarga terutama anak-anak. Upaya untuk mengurangi serta berhati-hati akibat dampak globalisasi sebaiknya dikembangkan dan diterapkan oleh masyarakat. Orangtua sebagai panutan serta contoh bagi anak-anak harus lebih berhati-hati dalam bersikap. Oleh karena itu, keluarga sangat berperan untuk mengurangi dampak negatif globalisasi dan merupakan pondasi awal agar bangsa Indonesia tidak kalah bersaing dengan bangsa lain.
Langganan:
Postingan (Atom)